1

Pacar Pertamaku


Namaku Anggi, umurku 22 tahun. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini aku sudah berada di tingkat akhir dan sedang dalam masa penyelesaian skripsi. Sebelum aku memulai kisah yang akan menjadi kisah indah bagiku, perkenankan aku mendeskripsikan diriku. Tinggiku 160 cm dengan berat 45 kg. Rambutku hitam panjang sepinggul dan lurus. Kulitku putih bersih. Mataku bulat dengan bibir mungil dan penuh. Payudaraku tidak terlalu besar, dengan ukuran 34 B.

Sebulan yang lalu, seorang laki-laki berumur 28 tahun memintaku jadi pacarny. Permintaan yang tak mungkin aku tolak, karena dia adalah sosok yang selalu ku impikan. Dia seperti pangeran bagiku. Badannya yang tinggi dan atletis serta sorot matanya yang tajam selalu membuatku terpana. Namanya adalah Rico, kekasih pertamaku. Rico sudah bekerja di perusahaan swasta di Jogja. Rico sangat romantis, dia selalu bisa membawaku terbang tinggi ke dunia mimpi.

Ribuan rayuan yang mungkin terdengar gombal selalu bagai puisi di telingaku. Sejauh ini hubungan kami masih biasa saja. Beberapa kali kami melakukan ciuman lembut di dalam mobil atau saat berada di tempat sepi. Tapi lebih dari itu kami belum pernah. Sejujurnya, aku kadang menginginkan lebih darinya. Membayangkannya saja sering membuatku masturbasi.

Hari ini (30 Maret 2010) tepat sebulan hari jadi kami. Rico dan aku ingin merayakan hari jadi tersebut. Setelah diskusi panjang, akhirnya diputuskan weekend kita berlibur ke kaliurang.

Sabtu yang ku tunggu datang juga. Rico berjanji akan menjemputku pukul 07.00 WIB. Sejak semalam rasanya aku tidak bisa tidur karena berdebar-debar. Untuk hari yang istimewa ini, aku juga memilih pakaian yang istimewa. Aku mengenakan kaos tanpa lengan berwarna biru dan celana jeans 3/4. Rambut panjangku hanya dijepit saja. Karena takut nanti basah saat bermain di air terjun, aku membawa sepasang baju ganti dan baju dalam. Tak lama kemudia Rico datang dengan mobil honda jazz putihnya. Ahh,, Rico selalu tampak menawan di mataku. Padahal dia hanya memakai kaos hitam dan celana jeans panjang.

"Sudah siap berangkat, Nggi?" aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil. Perjalanan tidak memakan waktu lama karena jalanan masih cukup sepi. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di tempat wisata. Ternyata pintu masuk ke area wisata masih ditutup.

"Masih tutup, mas.. Kita jalan dulu aja ke tempat lain, gimana?" tanyaku
"Iya.. coba lebih ke atas. Siapa tau ada pemandangan bagus."

Rico segera menjalankan mobilnya. Tidak begitu banyak pemandangan menarik. Begitu sekeliling tampak sepi, Rico memarkir mobilnya.

"Kita nunggu di sini aja ya, sayang. Sambil makan roti coklat yang tadi aku beli. Kamu belum sarapan, kan?"
"iya, mas.. Anggi juga lapar"

Sambil makan roti, Rico dan aku berbincang-bincang mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Tiba-tiba...

"Aduh Anggi sayang, udah gede kok makannya belepotan kayak anak kecil,,," ucapnya sambil tertawa. Aku jadi malu dan mengambil tisue di dashboard. Belum sempat aku membersihkan mukaku, Rico mendekat, "Sini, biar mas bersihin." Aku tidak berpikir macam-macam. Tapi Rico tidak mengambil tisue dari tanganku, namun mendekatkan bibirnya dan menjilat coklat di sekeliling bibirku. Oooh,, udara pagi yang dingin membuatku jantungku berdebar sangat kencang.

"Nah, sudah bersih." Ucap Rico sambil tersenyum. Tapi wajahnya masih begitu dekat, sangat dekat, hanya sekitar 1-2 cm di hadapanku. Sekuat tenaga aku mengucapkan terima kasih dengan suara sedikit bergetar. Rico hanya tersenyum, kemudian dengan lembut tangan kirinya membelai pipiku, menengadahkan daguku. Bisa ku lihat matanya yang hitam memandangku, membuatku semakin bergetar. Aku benar-benar berusaha mengatur nafasku. Seketika, ciuman Rico mendarat di bibirku. Aku pun membalas ciumannya. Ku lingkarkan kedua tanganku di lehernya.

Ku rasakan tangan kanan Rico membelai rambutku dan tangan kirinya membelai lenganku. Tak berapa lama, ku rasakan ciuman kami berbeda, ada gairah di sana. Sesekali Rico menggigit bibirku dan membuatku mendesah, "uhhhh..." refleks aku memperat pelukanku, meminta lebih. Tapi Rico justru mengakhirinya, "I love you, honey" Lalu mengecup bibirku dengan cepat dan melepaskan pelukannya. Aku berusaha tersenyum, "I love you, too". dalam hati aku benar-benar malu, karena mendesah. Mungkin kalau aku tidak mendesah, ciuman itu akan berlanjut lebih. Aaahh,,, bodohnya aku. Rico lalu menjalankan mobilnya menuju tempat wisata.

Kami bermain dari pagi hingga malam menjelang. Tak terasa sudah pukul 19.00 WIB. Sebelum kembali ke kota, kami makan malam dulu di salah satu restoran. Biasa, tidak ada makan malam hanya 1 jam. Selesai makan, ku lihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 21.30

"Waduh, mas,,, sudah jam segini. Kos Anggi dah tutup, nih. Anggi lupa pesen maw pulang telat. Gimana, ini?"
"Aduuh,, gimana, ya?? Ga mungkin juga kamu tidur di kos mas."
"Uuuh,, gimana, dong??"
"Udah, jangan cemas. Kita cari jalan keluarnya sambil jalan aja."

Selama perjalanan aku benar-benar bingung. Di mana aku tidur malam ini??

"Sayang, kita tidur di penginapan aja, ya. Daerah sini kan banyak penginapan. Gimana?"
"Iya deh, mas.. dari pada Anggi tidur di luar"

Tak lama kemudia Rico berhenti di sebuah penginapan kecil dengan harga murah. Tapi ternyata kamar sudah penuh karena ini malam minggu dan banyak yang menginap. Sampai ke penginapan kelima, akhirnya ada juga kamar kosong. Tapi cuma satu.

Karena sudah hampir pukul 23.00 kami memutuskan mengambil kamar tersebut. Sampai di kamar, Rico langsung berbaring di kasur yang ukurannya bisa dibilang single bed. Aku sendiri karena merasa badna lengket, masuk ke kamar mandi untuk ganti baju. Selesai mandi, dalam hati dongkol juga. Kalau tau nginap begini, satu kamar, aku kan bisa bawa baju dalamku yang seksi. Terus pake baju yang seksi juga.

Soalnya aku cuma bawa tank top ma celana jeans panjang. Hilang sudah harapanku bisa merasakan keindahan bersama Rico. Selesai mandi, aku segera keluar kamar. Tampak Rico sudah tidur. Sedih juga, liat dia udah tidur. Aku pun naik ke atas kasur dan membuat dia terbangun.

"Dah selesai mandi, ya.."
"Iya,, mas ga mandi??"
"Ga bawa baju ganti ma handuk"
"Di kamar mandi ada handuk, kok. Pake baju itu lagi aja, mas"

Rico mungkin merasa gerah juga, jadi dia pun mengikuti saranku. Gantian aku yang merasa mengantuk. Segera ku tarik selimut dan memejamkan mata tanpa berpikit apa-apa. Baru beberapa saat aku terlelap, ku rasakan ada sentuhan dingin di pipiku dan ciuman di mataku. Saat aku membuka mata, tampak Rico telanjang dada. Hanya ada sehelai handuk membalut bagian bawah. Badannya yang atletis tampak begitu jelas dan penampilannya membuatku menahan nafas.

"Ngga dingin mas, ga pake baju. Cuma pake handuk" Kataku dengan senyum penuh hasrat.

Tidak ada jawaban dari Rico. Dengan lembut dan cepat di rengkuhnya kepalaku dan kami pun berciuman. Bukan ciuman lembut seperti biasanya. Tapi ciuman penuh gairah. Lebih dari yang tadi pagi kami lakukan. Lidah kami saling bermain, mengisap, "mmmm...mmm.."

Ku lingkarkan tanganku di punggungnya, ku belai punggungnya. Tangan kananku lalu membelau dadanya yang bidang, memainkan puting susu yang kecil. Gerakanku ternyata merangsang Rico, di peluknya aku lebih erat, ku rasakan badannya tepat menindihku. Rico mengalihkan ciumannya, ke telingaku, "aaah,,mmm,,"

Tangannya menjelajahi badanku, menyentuh kedua gunung kembarku. Di belainya dengan lembut, membuatku mendesah tiada henti

"aaah,,mm,, masss,,,uhh,,," badanku sedikit menggeliat karena geli. Bisa ku rasakan vaginaku mulai basah karena tindakan tadi. Tangan Rico, kemudian masuk ke dalam tank topku, menjelajahi punggungku. Seakan mengerti apa yang dicari Rico, ku miringkan sedikit badanku dan ku lumat bibirnya penuh nafsu. Rico pun membalas dengan penuh nafsu dan tidak ada 1 detik kait BH lepas. Ku rasakan tangan Nico langsung kembali ke badanku dan mmbelai langsung kedua payudaraku.

"aaah,,,uhhh,,,"
"Sayang,,, tank topny dilepas, ya" ujarnya dengan nafas tersengal karena penuh gairah. Tanpa persetujuan dariku, lepaslah tank top dan juga BHku. Bagian atasku sudah tak berbusana. Rico langsung menikmati kedua payudaraku. Di remasnya payudaraku,,, membuatku menggeliat, mendesah,

"aaah,,sss...maass,,uhhh,,,," Erangan dari mulutku tampaknya membuat Rico semakin bernafsu, dia kemudian mengulum dan mengisap pentil payudaraku, "aaaahh,,,,ohhh,,,,,mmmm,,," aku mengerang, mendesah, menggeliat sebagai reaksi dari setiap tindakannya. Tangan kiri Rico membelai perutku dengan tangan kanan dan mulut yang masih sibuk menikmati payudaraku yang mengeras.

Ku rasakan tanga kiri Rico cukup kesulitan membuka celana jeansku. Ku naikkan pinggulku dan kedua tanganku berusaha membukan kaitan celana jeans dengan gemetar. Susah payah celana jeans itu akhrinya terlepas juga. Tanga kiri Rico tanpa membuang waktu langsung menyusup ke dalam celana dalamku, membelai vaginaku yang sudah basah, "aaahh,,,maass,,aah,,teruus,,ssshh,,mmmmm"

Kurasakan Rico menekan klitorisku, "aaahh,,,," membuatku semakin mendesah dan bergetar. Apalagi Rico masih mengisap puting payudaraku. Tidak lama kemudian ku rasakan seluruh badanku terasa kencang, vaginaku mengalami kontraksi dan aku menggeliat hebat, "AAAHHH,,,,,," sambil memegang pinggiran tempat tidur menyambut orgasme pertamaku.

Rico tampak puas dapat membuatku merasakan orgasme. Belum selesai aku mengatur nafas, Rico berada di antara kedua pahaku, dijilatinya kedua payudaraku, turun ke bawah, menjilat kedua perutku. Membuatku merasa geli penuh nikmat, "Oooh,,mass,," Seakan tau apa yang ku inginkan, kedua tangan Rico melepas celana dalamku.

Tampakalah vaginaku yang memerah dengan sedikit rambut halus di sekitarnya. Rico kemudian memainkan lidahnya di vaginaku. Rico menjilati, mengulum vaginaku, membuatku menggelinjang hebat dan ku rasakan kedua kalinya, adanya kontraksi, "aaaaahh,,,,". Aku orgasme untuk kedua kalinya. Sensasi yang sangat menyenangakan.

Rico belum puas dengan orgasmeku tadi. Setelah dia membersihkan vaginaku, bisa kurasakan lidah Rico menerobos masuk dan menyerbu klitorisku. Nafasku semakin memburu dan dari bibirku a terus mengalir alunan desahan kenikmtan yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya.

"Aahh,, mas,,aah,,uuhh,,, eeenaakk,,mmm,,sss"

Aku sangat menikmati oral yang diberikan Rico. Kurasakan dorongan lidah Rico lebih dalam lagi ke dalam vaginaku, membuat cairan dari dalam vaginaku terus mengalir tanpa henti. membuat Desahan yang keluar dari mulutku semakin kencang. Semakin lama Rico memberikan rangsangan di dalam vaginaku, membuatku menggeliat dan mengerang semakin kuat. Kurasakan lagi vaginaku berkontraksi, dan aku pun orgasme.

Setelah orgasmeku reda, Rico dengan wajahnya yang basah dan penuh gairah menindih badanku yang sudah telanjang bulat. Rico mengulum bibir dan lidahku. Tangan kiriku kemudian menarik handuk yang masih menutupi bagian bawahnya. Membuatku merasakan penisnya menusuk perutku, membuatku semakin bergairah. Ciuman kami semakin basah. Mulut kami terbuka lebar, bibir saling beradu.

Lidah Rico dengan lincah menelusuri bagian luar dari mulut dan daguku. aku pun membalas kelincahannya. Lidahku membasahi mulut dan dagunya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kulitku, kurasakan api hasrat liarku makin membesar. Lidah kami akhirnya bertemu. Aku makin bertambah semangat dan terus mendesah nikmat. Tanganku menelusuri seluruh bagian dari punggungku. Rico membelai kepalaku dan tangan kirinya meremas-remas pantatku yang bulat.

"aaahh,, mass,,,"
Rico tiba-tiba menghentikan cumbuannya, "sayang... aku mencintaimu, aku ingin kamu seutuhnya" dan mencium lembut bibirku yang sudah basah. Aku sudah terlalu dipenuhi gairah karena segala tindakan Rico. Hingga rasanya bicara aku sulit. Kulingkarkan kedua lengaku di leher Rico dan kuhisap kedua bibirnya dalam-dalam sebagai jawabanku. Aku ingin segera menanggalkan keperawananku dalam pelukan Rico.

Rico mengalihkan ciuman bibirnya keleherku yang putih, menciuminya, menjilatinya, membuatku semakin terangsang. Kurasakan penis Rico mengusap vaginaku, membuatku semakin bergairah, apalagi kedua payudaraku yang sudah sangat mengeras dimainkan oleh Rico. Jilatan Rico dari leherku terus kebawah hingga lidahnya menyentuh ujung puting susuku yang makin membuat aku mengerang tak karuan, "aaahh,,,oohh,,,mmm,,aahh".

Sementara puting susuku yang satu lagi masih tetap dia pilin dengan sebelah tangannya. Kemudian tangannya terus kebawah payudaraku dan terus hingga akhirnya menyentuh permukaan vaginaku. Tak lama kemudian kurasakan penis Rico tenggelam di dalam vaginaku setelah susah payah karena vaginaku yang sempit.

"Uuuh,,,aarggh,,,," ku rasakan nyeri yang sangat hingga menangis.
"Sakit ya, sayang... sabar, ya.. Ntar juga hilang kok" Rico menenangkanku, sambil mencium mataku yang mengeluarkan air mata. Setelah kurasakan vaginaku mulai terbiasa dengan kehadiran penis Rico, Rico kemudian menggerakkan penisnya perlahan, keluar-masuk vaginaku. Semakin lama gerakannya semakin cepat dan membuatku mendesah nikmat.

Makin lama makin cepat, kembali aku hilang dalam orgasmenya yang kuat dan panjang. Tapi Rico yang tampaknya nyaris tidak dapat bertahan, semakin mempercepat gerakannya. Aku yang baru saja orgasme merasakan vaginaku yang sudah terlalu sensitif berkontraksi lagi..

"Sayaang,, aku sudah mau keluar, dikeluarin di mana?" tanya sambil terengah-engah.
"Di dalam saja, mass,," Toh, aku juga dalam masa tidak subur. jadi buat apa dikeluarin di luar, pikirku.

Tak lama kemudian aku segera mengalami orgasme bersamaan dengan Rico. Ku rasakan semburan di dalam liang vaginaku yang memberikan kenikmatan tiada tara.

Rico kemudian merebahkan diri di sampingku dan memeluk erat tubuhku. Tubuh mungilku segera tenggelam dalam pelukannya. Tangan Rico dengan lembut membelai rambut panjangku, "Anggi sayang... Selamanya kita bersama ya, sayang." dan ciuman lembut, romantis mendarat di bibirku.

"Iya, mas.." ku cium bibirnya lambat tapi sesaat. kemudian ku rapatkan badanku ke badannya. Ku lihat jam di kamar menunjukkan pukul 01.00, mataku pun sudah lelah dan kami pun tidur dengan pulas.

Pagi menjelang, sinar matahari masuk ke dalam kamar melalu jendela dan membangunkanku. Ada sedikit rasa terkejut melihat wajah Rico karena baru pertama aku tidur dengan laki-laki. Tapi teringat kejadian semalam membuatku kembali terangsang. Perlahan, ku cium bibi Rico yang sedikit terbuka. Ternyata ciumanku membangunkan Rico yang kemudian membalas ciumanku dengan lebih bergairah dan menggigit telingaku.

"Selamat pagi sayangku, cintaku,," ucapnya.
"Pagi,,," ku cium lagi bibirnya dan tak lama kami pun saling mengulum bibir satu sama lai, dan memainkan lidah, menambah kenikmatan di pagi hari. Karena ingin sedikit iseng, ku lepas ciumanku

"Aku mandi dulu, ya..." belum sempat aku berdiri, baru duduk, Rico menarik perutku, menciuminya dengan lembut. Membuatku menahan keinginan untuk meninggalkan tempat tidur. "Nanti saja sayang.." Perlahan ciuman Rico dari perut naik menuju leherku, menjilatinya, membuatku mendesah nikamat, "aahh..mmm.."

Rico menjilati leherku dari belakang. Tangan kanannya meremas-remas payudaraku dan tangan kirinya menekan vaginaku. Ku rasakan jarinya masuk menyusuri liang vaginaku, memainkan klitorisku. Tak lama badanku pun menggeliat, pinggulku terangkat, dan orgasme pertama pagi itu datang.

Dengan lembut Rico memangkuku. Diletakannya aku di atas kedua pahanya. Kakiku melingkar di punggungnya. Kami pun berciuman dan Rico perlahan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Rico kemudian memompa penisnya, membuatku menggelinjang penuh nikmat. Sambil memainkan penisnya, Rico menikmati kedua payudaraku yang mengeras.

"aaah,,aah,,aahh,," semakin lama, semakin cepat, dan aku merasakan vaginaku kembali berkontraksi. Ku peluk kepala Rico dengan erat dan aku mengerang karena orgasme "Aaaaaaahhhh...." yang disusul dengan Rico yang juga mencapai puncaknya. Setelah itu kami bercumbu lagi beberapa saat kemudian baru mandi dan pulang ke kota meninggalkan seprei kamar yang basah karena cairanku dan Rico serta bercak darah pertanda hilangnya keperawananku.

Sebelum memulangkanku ke kos, kami mampir ke kos Rico untuk bercinta lagi. Sejak saat itu, setiap akhir minggu jika tidak ada kesibukan kami pasti check in di hotel untuk bercinta.

Kapan-kapan aku akan membagikan kisah cintaku yang lain bersama Rico tentunya. Kalau ceritanya kurang merangsang maaf, ya.. maklum baru pertama...
Read more
0

Sex Model in Photograph


Aku mungkin sudah banyak malang melintang di dunia fotografer, kamar yang sebagian orang tabu untuk dibuka dan bisa aku foto “kenapa dibilang tabu”karena pasangan yang aku foto dalam keadaan ML,bukan apa-apa karena gak tau pasangan itu pengen mengabadikan gaya sex mereka dalam sebuah album yang”historisnya”tinggi dan ini adalah konsumsi pribadi mereka,Bayaran mu lumyan Gede waktu itu,Honor yang lumyan bisa buat deting sama pacar-pacar.Lebih dari 2 brow pacarku,maklum aku fotografer setiap ada model cakep yang pengen orbit dan cepat tenar kadang aku bumbu-bumbuin otomatis juga dia sering kasih tips”cium gratis”enak juga mereka semua kan model,tidak usah minta no Hp yang ribet-ribet mereka sendiri yang pengen save no aku, kayak artis juga. He ngomong-Ngomong dalam karirku aku mengalami kejadian sex yang bikin aku konak saat itu,mau tau cerita seks selengkapnya“ ayo sayang , jangan malu , buka lebar kakinya …” pinta Soleh . “ ah .. jangan lebar lebar dong , malu ..” jawab si gadis . Soleh pun membidik dan memfoto , pose erotis gadis itu dengan camera digital megapixelnya .

“ gak usah malu sayang , punya body oke gak apa apa dong di tonton ..” ujar Soleh lagi. “ oke sekarang coba menunging , dan buka deh kakinya agak lebar ..” pinta Soleh lagi . Gadis itu menurut , “ seperti ini ..” .
“ yah , begitu , bagus banget deh pantat kamu , sangat sexy ..” ujar Soleh , sambil memfoto pose itu beberapa kali .
Mungkin Soleh juga gak tahan lagi , dan dia meraba vagina gadis itu . “ ahh … jangan ahh … “ gadis itu mulai bersuara , dan merubah posisinya . Gadis kembali duduk di atas ranjang hotel itu , dan kembali Soleh memfoto beberapa shoot lagi .
“ udah ah , waktunya sudah habis ..” gadis itu berjalan ke kamar mandi dan mengunci pintu. Soleh hanya tersenyum saja .
Tak lama Gadis itu sudah rapi berpakaian kembali , dengan t shirt dan rok mini sexynya itu .

“ Soleh eloe benar kan , bisa promosiin gua supaya bisa ikut main sinetron “ tanya Gadis itu . “ tenang aja Ning , gua kenal ma , banyak producer film …” jawab Soleh .
“ benar yah …” kata Ningrum, dan gadis itu bersemangat .
Tangan Soleh pun mulai nakal , dan meraba paha mulus Ningrum .“ ih , Soleh, kamu genit yah …” ujar Ningrum . Tak hanya di situ , Soleh pun memarkirkan bibirnya di bibir indah Ningrum . Ningrum tak menolak , mereka pun berciuman dengan nafsu .

Tangan Ningrum cukup agrefis , meraba raba selangkangan Soleh . Dan perlahan membuka
zippernya , Hingga penis Soleh mencuat keluar dari balik celana boxer . “ ihh , besar banget sih , punya kamu ..” seru Ningrum . “ kamu sukakan , sayang ..” ujar Soleh. Ningrum tersenyum , dan memainkan penis Soleh yang sudah tegang itu .

Sedangkan tangan Soleh juga terlihat sudah berada di balik rok mini Ningrum . “ ahh , kamu , jahat , bikin saya nafsu aja nih ..” guman Ningrum . Soleh hanya terenyum , dan Ningrum mulai mengubah posisi , lidahnya menjulur , menyentuh ujung penis Soleh . “ ohh….. “ Soleh melenguh . Ningrum terus memainkan ujung penis Soleh , dengan lidahnya , sesaat kemudian , mulai mengulumnya . “ yes babe , yes ..” desah Soleh , sambil ikut mengoyangkan pantatnya .
Sambil kedua tangan Soleh , melepas t shirt Ningrum , yang jongkok di hadapannya . Dan tangan Soleh mulai meraba raba buah dada , Ningrum yang montok , dan tampak sexy itu .

Gerakan Ningrum , semakin hot , memberi Soleh the best blowjob dengan harapan Soleh akan membatunya masuk ke duania showbizz. Tangan Soleh , juga terus memainkan buah dada Ningrum , meremas , remas , dan memainkan putting susunya yang tampak menonjol terangsang itu .
Tubuh Ningrum pun terlihat mengelijing , sambil terus mengulum penis Soleh .
Sepuluh menit berlalu , Soleh sudah semakin dekat ke puncak birahinya , kini kedua
tangannya , memegang kepala Ningrum , dan menguyangkan kepalanya muju dan mundur . “
oh .. ..oh…” Soleh melenguh , dan Ningrum menerima dengan nafsu setiap desakan penis besar
Soleh di mulutnya .
“ ohh , gua sudah mau keluar..” erang Soleh . Sambil mempercepat gerakkan bokongnya . Penisnya bergerak cepat di dalam mulut Ningrum , dan tak lama , Soleh terdiam . Ningrum memejamkan matanya , dan merasakan semburan hangat , dalam mulutnya .
Ningrum segera berlari ke toilet , membersihkan mulutnya , sedang Soleh terduduk lemas . Tapi itu tak lama , setelah Ningrum keluar dari toilet , Soleh langsung menyambutnya , dan melumat bibirnya dengan nafsu .
Ningrum memang cantik , di usianya yang menginjak 27 tahun , tubuhnya sexy dan matang . Rambutnya yang sebahu , selalu tertata rapi . Tangan Soleh pun melepas releting rok mini yang di kenakan Ningrum . Lalu jari jari nakal Soleh , mulai mengelus elus selangkangan Ningrum , yang masih terbalut celana dalam hitam mininya . “ ih … ahh….” desah Ningrum , yang berdiri , sambil memegang pundak Soleh .
Tangan Soleh pun tak sabar , memelorotkan celana dalam Ningrum . Terlihat bulu bulu , yang menghias bukit vaginanya . Jari Soleh bergerak , meraba belahan vagina Ningrum . Mencari daerah sensitif organ rahasia Ningrum . “ shhhh… ahh….” desah Ningrum . Jari Soleh pun mengesek klitoris Ningrum , membuat Ningrum semakin mendesah .
Jari jari Soleh tidak hanya mengesek , namun bergerak masuk keliang vagina Ningrum “ohh … ohh…. .. ohh…” desah nya . Jari jari Soleh lincah bergerak , membuat Ningrum semakin mendesah desah kenikmatan .
Jari jari yang basah itu terus keluar masuk liang vagina Ningrum , hingga Ningrum di buatnya tak bisa bertahan . “ ahh.. udah .., saya gak kuat di giniin…ahh…” desah Ningrum , yang membuat Soleh semakin mempercapat gerakan jarinya , dalam vagina Ningrum yang semakin basah . “ ahh … udah..ah… “ .Dan tiba tiba , tubuh Ningrum mengejang , dan seakan tulangnya lepas , dan Ningrum terduduk di lantai karpet kamar hotel itu .
Kembali Soleh , menarik tangannya , hingga Ningrum berdiri , dan duduk di pangkuan Soleh , dan Soleh melumat bibir Ningrum dengan nafsu . Bibir mereka menempel erat , dan lidah mereka berpilin pilin , beberapa saat , hingga Soleh , merebahkan tubuh Ningrum , yang sudah separuhnya bugil , di kasur empuk hotel itu .
Kedua kaki Ningrum di buka lebar oleh Soleh , vaginanya yang memerah , dengan liang vagina yang siap santap . Soleh pun mulai mengarahkan penisnya , mendekat liang vagina Ningrum , dan semakin mendekat .
“ ahh .. soleh .. pelan pelan ..dong.. …” ujar Ningrum . Soleh hanya tersenyum , dan terus mendesak penis besarnya ke dalam vagina Ningrum , gadis yang cantik itu . “ ohh .. .. ohh… “ erang Ningrum , menikmati desakan hardware milik Soleh itu .
Soleh pun mulai dengan goyangan saktinya , mendorong , dan menarik , membuat tubuh Ningrum , mengelijing , dan mulutnya mendesah desah . Gerakan Soleh pun semakin cepat, dan Ningrum semakin menikmati gerakan Soleh , seakan di bawa Soleh terbang jauh, melayang di langit kenikmatan .
Meraka terus bergumul , kedua kaki Ningrum terlihat melingkar di pingang Soleh , menjaga agar tak lepas , moment moment penuh kenikmatan ini . Soleh pun terus mendorong dan menarik penisnya .
“ ahh .. ahh .. aku gak kuat lagi ..ohh…. “ erang Ningrum . Soleh semakin mempercepat gerakkannya , dan Ningrum menjerit , sambil tangannya mencengkram kuat pundak Soleh. Tubuhnya mengejang , dan kembali Ningrum mendapat orgasmenya . Begitu juga dengan Soleh yang sudah tak bisa membendung birahinya , dan melepas spermanya .
Soleh berhenti dengan gerakkannya , dan menciumi bibir Ningrum dengan mesra .
Read more
1

Wulan Nan Menggairahkan


Suatu hari aku ke Garut. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya tigapuluhdelapan tahun dan sebut saja namanya Primus. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak serta istrinya. Istrinya, Tante Ani, lima tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Wullan, duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama.

Kalau aku ke Garut aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Primus untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Bali, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya yang sedang sakit panas dingin, flu, batuk dan pusing dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat bersama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Primus. Aku pun bersantai dan DVD Player. Selesai satu film Rome Must Die. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa Video Bokep. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh cover DVD Video Bokep di bawah karpet.

“Hallo, Oom Parko..!” Wullan yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Becak.. uang Wullan seratus ribuan, abang becak nya nggak ada kembalinya.”

Aku tersenyum mengedipkan mata dan keluar membayarkan Becak yang cuma dua ribu rupiah.
Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Wullan duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali Video Bokep yang sedang setengah jalan. Wullan memandang kepadaku dan tertawa geli.

“Ih! Oom Parko! Begitu, yah, caranya..? Wullan sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
“Wullan.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.” serba salah akupun menjawab
“Aahh, Oom Parko. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma gitu-gitu dwang kan?! Gambar yang dibawa temen Wullan di sekolah lebih ganas dan hehe…..”
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Wullan justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Wullan terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam delapan malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Wullan sedang telungkup di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, aku memanggil Wullan. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai pembungkus payudara, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai bergidik, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku. Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah Toketnya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.


“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Wullan mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Wullan pakai seragam sekolah, kepanasan di Becak..!”
“Aahh.. Oom Parko ngeledek..!”
Wullan meloncat dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul Toketnya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Harum bedak bayi dari kulitnya dan harum aroma shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Wullan mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah Toketnya. Nafas Wullan makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Wullan menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis Sekolah dasar kelas 8, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga Toketnya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Wullan yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit Memek nya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Wullan. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Ehh.. mmaahh..,” tangan Wullan meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir memek nya ku sedot kucium. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Wullan mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan Memek nya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir Memek nya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Wullan akan terlonjak dan nafas Wullan seakan tersedak. Tanganku naik ke Toketnya dan meremas kedua bukit Toketnya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Wullan tergeletak terengah-engah, matanya merem melek, terkadang hanya terlihat putihnya saja. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan Kontol ku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Wullan.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Wullan membuka bibirnya, kujejalkan kepala Kontol ku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas Toketnya dan membelai Memek nya. Segera saja Kontol ku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Wullan dan bibirku melumat bibirnya. Aroma Kontol ku ada di mulut Wullan dan aroma kemaluan Wullan di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala Kontol ku ke celah di selangkangan Wullan, kurasakan tangan Wullan menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan Kontol ku mulai menempel di bibir liang Memek nya, dan Wullan semakin mendesah-desah. Segera saja kepala Kontol ku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir,
“Aahh..”! Wullan menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos
apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung Kontol ku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran Kontol ku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Wullan masih Sekolah Menengah Perrama dan ukuran lubang Memek nya terlalu kecil.
Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Wullan memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung Kontol ku membentur dasar padahal baru 3/4 Kontol ku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Wullan terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya. Kernyit di dahi Wullan menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Wullan mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Wullan, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Wullan sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak baru kepala Kontol ku saja yang menancap di Memek nya. Tanpa perlu diajarkan, Wullan segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Wullan makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang Kontol ku.
Setelah tubuh Wullan melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Wullan tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Wullan lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan Kontol ku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Wullan yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Wullan.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Wullan kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Kembali ke rumah Primus, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Wullan pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum Kontol ku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan DVD Bokep menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “Sepong Kontol paling nikmat”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari Vidoe bokep yang ku tonton tadi siang.
Read more
1

Threesome Lebih Mantab

Perkenalkan nama ku Mawar, Aku seorang model baru, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa Mas Barno, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar² dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.Mas Barno membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi² sekali, pada hari yang telah ditentukan, Mas Barno menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Wishnu, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira² seumuran denganku.
Tugas Wishnu adalah membantu Mas Barno pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Mas Barno sangat profesional mengatur pemotretan, mula² dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar. Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan² mau meloncat keluar. Wishnu terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.Setelah itu, Mas Barno mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke-2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan² telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.Wishnupun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kontolnya sudah ngaceng sekeras²nya. Mas Barno mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam² gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem² pose yang seksi². Kembali Wishnu memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.
Sekarang sekitar jam duabelas siang, Mas Barno minta Wishnu untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Mas Barno memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu² segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi², aku tertidur. Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat Mas Barno sedang menggerayangi tubuhku.
“War, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Mawar, boleh gak War. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”, katanya.
Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.

“Mawar sih mau aja om, tapi nanti Wishnu kalo dateng
gimana”, tanyaku.
Mas Barno segera meremas² toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.
“Kamu kan udah sering dientot kan War, nanti kalo Wishnu mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya”, katanya sambil tersenyum.
Aku diam saja, Mas Barno berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas² toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.
“War, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya War. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya War”.
Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.
“Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku sambil meremasi rambut Mas Barno yang sedang mengisap toketku.
Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut Mas Barno. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah Mas Barno melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.
“Jembut kamu lebat ya War, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde”, katanya.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.
Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.
“Mawar ga tahan lagi Mas, Mawar emut kontol Mas ya” kataku.
Mas Barno langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga Mas Barno bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
“Eemmpp..nngg..!” aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.
Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku. Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Wishnu muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.

“Wish, mau ikutan gak”, tanya Mas Barno sambil tersenyum.
“Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Wishnu sampai habis.

Sambil makan, kulihat jakunnya Wishnu turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang
Akhirnya Wishnu mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
“War, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol Mas Barno, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Wishnu mengerang keenakan.
“Enak, Jok”, tanya Mas Barno yang memperhatikan Wishnu agak grogi menikmati emutanku.

Mas Barno lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Mas Barno pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.
Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Wishnu makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Wishnu ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Mas Barno menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Wishnu menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.
Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Wishnu. Bersamaan dengan itu pula entotan Mas Barno terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku. Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.
“War, aku pengen ngen totin nonok kamu juga”, kata Wishnu.
Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,
“Tapi Mawar istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku.
Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, Mas Barno duduk di sebelah kiriku dan Wishnu di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.
“War, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu” kata Wishnu mengambil posisi berlutut di depanku.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol Mas Barno yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.
“Aahh.. Wish, cepet masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.
“Wah.. seret banget nonok kamu War”, erangnya.
Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Wishnu memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku. Goyangan kami terhenti sejenak ketika Mas Barno tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Wishnu. Mas Barno membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.

“Aduuh.. pelan-pelan Mas, sakit ” rintihku waktu dia
mendorong masuk kontolnya.
Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika Mas Barno menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, Mas Barno malah makin buas menggentotku. Wishnu melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Wishnu erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Wishnu.
Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Wishnu, dan Mas Barno menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.
Setelah dilanda badai yang sangat dahsyat tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke lantai dua. Sambil mengelap tubuh seksi ku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. Memek dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir
“Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih” disambut gelak tawa kami.
Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang. Mas Barno mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus² Memekku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses Memekku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok².

“War, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat² sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan², dan kepalaku mengangguk² memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.
“Ah, enak War, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan.
Tangannya terus saja mengelus² Meki ku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.
“War, kamu udah napsu banget ya, Memek kamu udah basah begini”, katanya lagi.
kontolnya makin seru kuisep²nya. Kulihat Wishnu sedang mengelus² kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat Mas Barno menggarap aku. Tiba² dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke Memekku, ditekannya kepalanya masuk ke Memekku. terasa banget Memekku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk Memekku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di Memekku.
“Enak Mas , kontol Mas bikin Memek Mawar sesek, dienjot yang keras Mas “, rengekku keenakan.
enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguhkenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe

“Mas lebih cepet ngenjotnya dong, Mawar udah mau nyampe”, rengekku.
“Cepat banget War, Mas belum apa²? jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. Akhirnya aku menjerit keenakan “Mas, Mawar nyampe mas , aah”, aku menggelepar kenikmatan.
Dia masih terus saja mengenjotkan Kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba² dia mencabut kontolnya dari Memekku.

“Kok dicabut Mas, kan belum ngecret”, protesku.
Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing.
“Mas, masukkin diMemek Mawar aja ya, kalo dipantat gak asik”, pintaku.
Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di Memekku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di Memekku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,
“Mas , nikmat”, erangku lagi.
Jarinya terasa mengelus² pantatku, tiba² salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya Memekku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,
“Aah War, nikmat banget, empotan Memek kamu kerasa banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot Memekku.
Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas² toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke memek ku, sambil dientot memek ku dikilik²nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.
“Mas , nikmat banget ngentot sama Mas , Mawar udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya Mas ,” erangku saking nikmatnya.
Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian….
“Mas, Mawar mau nyampe lagi, Mas , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang lagi keenakan.
Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem² di Memekku dan terasa pejunya ngecret.

“Aah War, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas punggungku.
Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari Memekku.
“Mas , nikmat deh, sekali entot aja Mawar bisa nyampe ² kali. Abis ini giliran Wishnu ya”, kataku.
“Iya”, jawabnya sambil berbaring disebelahku.
Aku memeluknya dan dia mengusap² rambutku.

“Kamu pinter banget muasin lelaki ya War”, katanya lagi.Aku hanya tersenyum
“Mas, Mawar mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat Mas Barno sudah tidak ada dikamar. Wishnu sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya ku elus². Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku. Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok² Memekku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas² toketku. Pentilku diplintir²nya
“Wish enak, Mawar udah napsu lagi nih”, erangku.
Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu
“Wish, nikmat banget “, erangku.
Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di Memekku.
“Aah Wish , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget”, erangku.
Aku menggeliat² keenakan, tanganku meremas² sprei ketika dia mulai menjilati Memek dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah², sementara dia terus menjilati Memekku yang basah berlendir itu.
Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.
“War, kamu pinter banget sih”, dia memuji.
Cukup lama aku mengemut kontolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku, kontolnya kuisep kuat². Dia merem melek keenakan. Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar². Dia menggesek²kan kepala kontolnya di bibir Memekku, lalu dienjotkan masuk,
“Wish , enak”, erangku.
Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk pelan² sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di Memekku.

“War, Memekmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali²ya”, katanya.
“Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe Memek Mawar kerasa sempit”, jawabku terengah.
Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.
“Enak Wish, aah”, erangku keenakan.
enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa Memekku mulai berkedut²,
“Wish lebih cepet dong, enak banget, Mawar udah mau nyampe”, erangku.
“Cepet banget War, aku belum apa²?, jawabnya.
“Abisnya kontol kamu enak banget sih gesekannya”, jawabku lagi.
enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku
“Terus Wish , enak”. Toketku diremas² sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.
“Terus Wish , lebih cepat, aah, enak Wish, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku mengejang, aku nyampe nikmat banget rasanya.
Padahal dengan Mas Barno, aku udah nyampe ² kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. Memekku kudenyut²kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh
“Enak War, empotan Memek kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot War”, erangnyasambil terus mengenjot Memekku.Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam Memekku, banyak banget kerasa nyemburnya “War, aakh, aku ngecret War, nikmatnya Memek kamu”, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya. “Trima kasih ya War, kamu bikin aku nikmat banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari Memekku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.
Aku terbangun karena merasa ada jilatan di Memekku, ternyata Mas Barno yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. Memekku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya Memekku makin terbuka.
“Mas , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.
Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas² toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di Memekku. Pentilku kuplintir² juga. Kemudian memek ku diisep²nya sambil sesekali menjilati Memekku, menyebabkan Memekku sudah banjir lagi. Aku menggelepar² ketika itilku diemutnya. Cukup lama memek ku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.

“Mas, masukin dong Mas , Mawar udah pengen dientot”, rengekku. Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke Memekku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,
“Yang dalem Mas , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong Mas “, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.
Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya diMemekku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.
“Ayo Mas , dienjot dong”, rengekku lagi.
Dia mulai mengenjot Memekku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat² saking nikmatnya

“Mas , enak Mas , terus Mas , Mawar udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas²nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,
“Mas enak, Mawar nyampe Mas , aah”, erangku lemes.
Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus². Memekku kudenyut²kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.
“War, terus diempot War, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar Mas bisa ngecret War”, pintanya.
Sementara itu enjotan kontolnya masih terus gencar meroWish Memekku. Toketku kembali diremas²nya, pentilnya diplintir²nya.
“Mas , Mawar kepengin ngerasain lagi disemprot peju Mas “, kataku.
Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk Memekku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya…

“War, aku mau ngecret War, aah”, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam Memekku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat²,
“War, nikmat banget deh ngentot ama kamu”, katanya.
Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot ² cowok berkali².

“Mas, jangan lupa orbitin Mawar ya”, kataku.
“Jangan kawatir, selama Mas masih bisa ngerasain empotan Memek kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Wish”, jawabnya.
Read more