1

Wulan Nan Menggairahkan


Suatu hari aku ke Garut. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya tigapuluhdelapan tahun dan sebut saja namanya Primus. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak serta istrinya. Istrinya, Tante Ani, lima tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Wullan, duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama.

Kalau aku ke Garut aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Primus untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Bali, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya yang sedang sakit panas dingin, flu, batuk dan pusing dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat bersama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Primus. Aku pun bersantai dan DVD Player. Selesai satu film Rome Must Die. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa Video Bokep. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh cover DVD Video Bokep di bawah karpet.

“Hallo, Oom Parko..!” Wullan yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Becak.. uang Wullan seratus ribuan, abang becak nya nggak ada kembalinya.”

Aku tersenyum mengedipkan mata dan keluar membayarkan Becak yang cuma dua ribu rupiah.
Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Wullan duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali Video Bokep yang sedang setengah jalan. Wullan memandang kepadaku dan tertawa geli.

“Ih! Oom Parko! Begitu, yah, caranya..? Wullan sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
“Wullan.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.” serba salah akupun menjawab
“Aahh, Oom Parko. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma gitu-gitu dwang kan?! Gambar yang dibawa temen Wullan di sekolah lebih ganas dan hehe…..”
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Wullan justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Wullan terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam delapan malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Wullan sedang telungkup di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, aku memanggil Wullan. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai pembungkus payudara, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai bergidik, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku. Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah Toketnya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.


“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Wullan mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Wullan pakai seragam sekolah, kepanasan di Becak..!”
“Aahh.. Oom Parko ngeledek..!”
Wullan meloncat dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung! Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul Toketnya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Harum bedak bayi dari kulitnya dan harum aroma shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Wullan mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah Toketnya. Nafas Wullan makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Wullan menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis Sekolah dasar kelas 8, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga Toketnya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Wullan yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit Memek nya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Wullan. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Ehh.. mmaahh..,” tangan Wullan meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir memek nya ku sedot kucium. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Wullan mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan Memek nya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir Memek nya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Wullan akan terlonjak dan nafas Wullan seakan tersedak. Tanganku naik ke Toketnya dan meremas kedua bukit Toketnya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Wullan tergeletak terengah-engah, matanya merem melek, terkadang hanya terlihat putihnya saja. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan Kontol ku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Wullan.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Wullan membuka bibirnya, kujejalkan kepala Kontol ku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas Toketnya dan membelai Memek nya. Segera saja Kontol ku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Wullan dan bibirku melumat bibirnya. Aroma Kontol ku ada di mulut Wullan dan aroma kemaluan Wullan di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala Kontol ku ke celah di selangkangan Wullan, kurasakan tangan Wullan menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan Kontol ku mulai menempel di bibir liang Memek nya, dan Wullan semakin mendesah-desah. Segera saja kepala Kontol ku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir,
“Aahh..”! Wullan menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos
apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung Kontol ku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran Kontol ku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Wullan masih Sekolah Menengah Perrama dan ukuran lubang Memek nya terlalu kecil.
Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Wullan memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung Kontol ku membentur dasar padahal baru 3/4 Kontol ku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Wullan terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya. Kernyit di dahi Wullan menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Wullan mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Wullan, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Wullan sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak baru kepala Kontol ku saja yang menancap di Memek nya. Tanpa perlu diajarkan, Wullan segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Wullan makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang Kontol ku.
Setelah tubuh Wullan melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Wullan tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Wullan lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan Kontol ku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Wullan yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Wullan.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Wullan kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Kembali ke rumah Primus, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Wullan pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum Kontol ku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan DVD Bokep menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “Sepong Kontol paling nikmat”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari Vidoe bokep yang ku tonton tadi siang.
Read more
0

Marlena si Gadis Kecil


Namaku Andi, ketika aku SMP, aku tinggal dengan saudaraku di Jakarta, di rumah itu aku bersama tiga orang anak dari saudaraku itu yang usianya sebayaku kecuali Marlena si bungsu, gadis kecil yang masih kelas enam SD.

Setahun sudah aku tinggal dengan mereka, di usia puber sepertiku, semakin hari tubuh Marlena yang biasa kupanggil Lena, terlihat semakin bongsor saja, dengan kulitnya yang putih bersih semakin terlihat menggairahkan nafsuku. Maklumlah turunan dari ibunya yang bertubuh bongsor dan montok.
Setiap pulang sekolah aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan Lena, sekedar untuk melihatnya dari dekat, apalagi payudaranya mulai terlihat bentuknya. Aku pun mulai mengincarnya, suatu ketika aku akan mendekatinya, pikirku.
Dihari berikutnya saat Marlena pulang dari sekolah langsung menuju ke kamar tempat cucian-cucian yang belum kering, karena di rumah lagi tidak ada orang, akupun mengikutinya. Aku berusaha agar kedatanganku tidak mengagetkannya.
"Len..udah pulang..?" iya kak, sambil melepas sepatunya.
"Awas dong..mau ganti baju nih..!" katanya memohon.
"Iya..aku keluar deh..tapi kalo udah ganti baju boleh masuk lagi ya..!" pintaku padanya.
"Iya....boleh.." ungkapnya.
"Aku masuk ya..!" pintaku dari luar sambil membuka pintu. Wow..seperti bidadari Marlena memakai daster kecilnya yang bertali satu, jantungku berdegup kencang seakan tidak percaya akan pemandangan itu.
"Len..kamu cantik sekali pakai baju itu..!" ungkapku jujur padanya.
"Masa sih..!" kata Marlena sambil berputar bergaya seperti peragawati.
"Aku boleh bilang sesuatu nggak Len..?" tanyaku agak ragu padanya.
"Mau bilang apaan sih kak..serius banget deh kayaknya..!" ungkap Marlena penasaran.
"A..aku.. boleh peluk kamu nggak..,sebentar aja..!" ungkapku memberanikan diri.
"Aku janji nggak ngapa-ngapain...sungguh..!" janjiku padanya.
"Iiih..peluk gimana sih.., emang mau ngapain.., nggak mau ah..!" bantahnya.
"Sebentar...aja...ya..Len.." kembali aku membujuknya, jangan sampai dia jadi takut padaku.
"Ya udah cepetan ah..yang enggak-enggak aja sih.." ungkapnya agak genit sambil berdiri membelakangiku.
Tak kusia-siakan aku langsung memeluknya diri belakang, tanganku melingkar di tubuhnya yang kecil mulus, dan padat itu, lalu tanganku kuletakkan di bagian perutnya, sambil ku usap-usap dengan perlahan.
Gila..kontolku langsung berdenyut begitu menyentuh pantat Marlena yang empuk dan bentuknya sedikit menungging menyentuh ke arah kontolku. Langsung saja kugesek-gesekkan pelan-pelan di pantatnya itu.
"Iiih...diapain sih tuh..udah...ah..!" seru Marlena sambil berusaha melepaskan pelukanku.
"Aku terangsang Len..abis kamu cantik sekali Len..!" ungkapku terus terang.
Marlena pun membalikkan badannya menghadapku, sambil menatapku penuh rasa penasaran.
"Anunya bangun ya kak..?" tanya Marlena heran.
"Iya Len..aku terangsang sekali.." ungkapku sambil mengelus-elus celanaku yang menyembul karena kontolku yang sudah tegang.
"Kamu mau lihat nggak Len..?" tanyaku padanya.
"Nggak ah..entar ada orang masuk lho..!" katanya polos.
"Kita kunci aja dulu pintu gerbangnya ya..!" ungkapku, sambil beranjak mengunci pintu gerbang depan.
Sementara Marlena menungguku dengan sedikit salah tingkah di kamar itu.
Sekembali mengunci pintu gerbang depan, kulihat Marlena masih di kamar itu menunggu dengan malu-malu, tapi juga penasaran.
"Ya udah aku buka ya....?" ungkapku sambil menurunkan celana pendekku pelan-pelan.
Kulihat Marlena mengbuang muka pura-pura malu tapi matanya sedikit melirik mencuri pandang ke arah kontolku yang sudah kembali ngaceng.
"Nih lihat...cepetan mumpung nggak ada orang..!" ungkapku pada Marlena sambil kuelus-elus kontolku di depannya. Marlena pun melihatnya dengan tersipu-sipu.
"Iiih ngapain sih... Malu tahu..!" ungkapnya pura-pura.
"Ngapain malu Len..kan udah nggak ada orang.." kataku berdebar-debar.
"Mau pegang nggak...?" Ungkapku sambil menarik tangan Marlena kutempelkan ke arah kontolku. Tampak muka Marlena mulai memerah karena malu, tapi penasaran. Masih dalam pegangan tanganku, tangan Marlena kugenggamkan pada batang kontolku yang sudah ngaceng itu, sengaja ku usap-usapkan pada kontolku, dia pun mulai berani melihat ke arah kontolku.
"Iiiih..takut ah..gede banget sih..!" ungkapnya, sambil mulai mengusap-ngusap kontolku, tanpa bimbinganku lagi.
"Aaaah..ooouw...terus Len..enak banget..!" aku mulai merintih. Sementara Marlena sesuai permintaanku terus menggenggam kontolku sambil sesekali mengusap-usapkan tangannya turun naik pada batang kontolku, rasa penasarannya semakin menjadi melihat kontolku yang sudah ngaceng itu.
"Aku boleh pegang-pegang kamu nggak Len..?" ungkapku sambil mulai mengusap-usap lengan Marlena, lalu bergeser mengusap-usap punggungnya, sampai akhirnya ku usap-usap dan kuremas-remas pantatnya dengan lembut. Marlena terlihat bingung atas tingkahku itu, di belum mengerti apa maksud dari tindakanku terhadapnya itu, dengan sangat hati-hati rabaan tanganku pun mulai keseluruh bagian tubuhnya, sampai sesekali Marlena menggelinjang kegelian, aku berusaha untuk tidak terlihat kasar olehnya, agar dia tidak kapok dan tidak menceritakan ulahku itu kepada orang tuanya.
"Gimana Len.....?" ungkapku padanya.
"Gimana apanya..!" jawab Marlena polos.
Aku kembali berdiri dan memeluk Marlena dari belakang, sementara celanaku sudah jatuh melorot ke lantai, sekalian saja kulepas. Marlena pun diam saja saat aku memeluknya, sentuhan lembut kontolku pada daster mini warna bunga-bunga merah yang dipakai Marlena membuatku semakin bernafsu padanya. akupun terus menggesek-gesekkan batang kontolku di atas pantatnya itu. Sementara tangan Marlena terus menggenggam batang kontolku yang menempel di pantatnya, sesekali dia mengocoknya pelan-pelan.
Tak lama setelah itu perlahan kuangkat daster tipis Marlena yang menutupi bagian pantatnya itu, lalu dengan hati-hati kutempelkan batang kontolku diatas pantat Marlena yang tidak tertutupi oleh daster tipinya lagi.
"Len...buka ya celana dalamnya...!" pintaku pelan, sambil membelai rambutnya yang terurai sebatas bahunya itu.
"Eeeh...mau ngapain sih...pake dibuka segala..?" tanyanya bingung.
"Nggak apa-apa nanti juga kamu tahu.. Lena tenang aja..!" bujukku padanya agar dia bersikap tenang, sambil perlahan-lahan aku turunkan celana dalam Marlena.
"Tuh kan....malu..masa nggak pake celana dalam sih..!" ungkapnya merengek padaku.
"Udah nggak apa-apa...kan nggak ada siapa-siapa..!" aku menenangkannya.
"Kamu kan udah pegang punyaku..sekarang aku pegang punyamu ya..Len..?" pintaku padanya, sambil mulai ku usap-usap memeknya yang masih bersih tanpa bulu itu.
"Ah..udah dong..geli nih.." ungkap Marlena, saat tanganku mengusap-usap selangkangan dan memeknya.
"Ya udah...punyaku aja yang ditempelin deket punyamu ya..!" ungkapku sambil menempelkan batang kontolku ditengah-tengah selangkangan Marlena tepat diatas lubang memeknya. Pelan-pelan kugesek-gesekkan batang kontolku itu di belahan memek Marlena. Lama kelamaan memek Marlena mulai basah, semakin licin terasa pada gesekkan batang kontolku di belahan memek Marlena, nafsu birahiku semakin tinggi, darahku rasanya mengalir cepat keseluruh tubuhku, seiring dengan degup jantungku yang makin cepat.
Masih dalam posisi membelakangiku, aku meminta Marlena membungkukkan badannya ke depan agar aku lebih leluasa menempelkan batang kontolku di tengah-tengah selangkangannya. Marlena pun menuruti permintaanku tanpa rasa takut sedikitpun, rupanya kelembutan belaianku sejak tadi dan segala permintaanku yang diucapkan dengan hati-hati tanpa paksaan terhadapnya, meyakinkan Marlena bahwa aku tidak mungkin menyakitinya.
"Terus kita mau ngapain nih..?" ungkap Marlena heran sambil menunggingkan pantatnya persis kearah kontolku yang tegang luar biasa. Kutarik daster tipisnya lalu kukocok-kocokkan pada batang kontolku yang sudah basah oleh cairan memek Marlena tadi. Lantas aku masukan kembali batang kontolku ketengah-tengah selangkangan Marlena, menempel tepat pada belahan memek Marlena, mulai kugesek-gesekan secara beraturan, cairan memek Marlena pun semakin membasahi batang kontolku.
"Aaah..Len..enaaaak...bangeet..!" aku merintih nikmat.
"Apa sih rasanya...emang enak..ya..?" tanya Marlena, heran.
"Iya..Len..rapetin kakinya ya..!" pintaku padanya agar merapatkan kedua pahanya.
Waw nikmatnya, kontolku terjepit di sela-sela selangkangan Marlena. Aku terus menggenjot kontolku disela-sela selangkangannya, sambil sesekali kusentuh-sentuhkan ke belahan memeknya yang sudah basah.
"Ah geli nih... udah belum sih..jangan lama-lama dong..!" pinta Marlena tidak mengerti adegan ini harus berakhir bagaimana.
"Iya..Len.. sebentar lagi ya..!" ungkapku sambil mempercepat genjotanku, tanganku meremas pantat Marlena dengan penuh nafsu.
Tiba-tiba terasa dorongan hebat pada batang kontolku seakan sebuah gunung yang akan memuntahkan lahar panasnya.
"Aaaaakh..aaaoww..Leenn..aku mau keluaarr..crottt..crott..crottt..oouhh..!" air maniku muncrat dan tumpah diselangkangan Marlena, sebagian menyemprot di belahan memeknya.
"Iiiih...jadi basah..nih..!" ungkap Marlena sambil mengusap air maniku diselangkangannya.
"Hangat..licin..ya..?" ungkapnya sambil malu-malu.
"Apaan sih ini...namanya..?" Marlena bertanya padaku.
"Hmm..itu namanya air mani..Len..!" jelasku padanya.
Dipegangnya air mani yang berceceran di pahanya, lalu dia cium baunya, sambil tersenyum. Aku pun menatap Marlena sambil melihat reaksinya setelah melihat tingkahku padanya itu. Tapi untunglah Marlena tidak kaget atas tingkahku itu, cuma sedikit rasa ingin tahu saja yang terlihat dari sikapnya itu.
Aku sungguh beruntung dengan keadaan di rumah itu sore itu yang telah memberiku kesempatan untuk mendekati Marlena gadis kecil yang cantik.
Marlenapun menurunkan daster mininya sambil mengusapkannya ke selangkangannya yang belepotan dengan air maniku, lalu dipakainya kembali celana dalamnya yang kulepas tadi.
"Len..makasih ya..udah mau pegang punyaku tadi..!" ungkapku pada Marlena yang masih terheran-heran atas ulahku tadi.
"Kamu nggak marahkan kalau besok-besok aku pengen seperti ini lagi..?" pintaku pada Marlena.
"Iya..nggak apa-apa..asal jangan lagi ada orang aja..kan malu..!" ungkap Marlena polos.
Setelah itu Marlena pun bergegas mengambil tas sekolahnya berlalu ke dalam kamarnya, aku benar-benar merasa puas dengan kepolosannya tadi, pokoknya nanti aku akan bujuk dia untuk seperti itu lagi, kalau perlu kuajari yang lebih dari itu.
Read more